Kecil Namun Membekas

 Oleh Nuraini Ahwan

Terlihat sepele, tetapi berdampak pada perilaku sang buah hati. Bukan karena malas, bukan karena pelit dan bukan pula karena menguji kepatuhan  sang buah hati pada orang tuanya. Tetapi semata-mata ingin membiasakannya berperilaku jujur, patuh pada  orang tua dan tentunya tidak membiasakan mengambil barang yang bukan haknya. 

Ini merupakan pembiasaan kecil, terlihat sepele dan terlihat seperti tak penting. Awalnya saya tidak tahu akan berpengaruh besar dan terbawa sampai ia besar. Karena memang spontan saja saat itu dilalu akan dan dibiasakan pada buah hati. 

Kebiasaan yang kami terapkan di rumah mungkin berbeda dengan para sahabat atau mungkin sama. Saya melihat kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua dalam memberikan uang jajan pada buah hatinya yang sudah bisa mengerti dengan nilai mata uang adalah dengan memberi uang bulanan. Ini baik untuk melatih  buah hati untuk bisa bertanggung jawab terhadap miliknya, melatih manajemen keuangannya sendiri. Ini tentunya baik meskipun dengan banyak kekurangan dan kelebihannya. 

Namun bagi kami di rumah, sejak anak masih kecil, yang ia tahu hanyalah namanya uang, belum mengerti nilai mata uang, yang ia tahu hanya bisa belanja saja, ada kebiasaan yang kami terapkan. Setelah besar, ketika mereka mengerti nilai mata uang, sebut saja usia sekolah dasar, kami  belum memberikan tanggung jawab manajemen keuangan sendiri dengan memberikan uang bulanan. Kami masih memberikan uang jajan harian. Meskipun agak repot tak menjadi masalah kebiasaan seperti ini. . Pendapat teman yang mengatakan jika memberikan uang harian agak repot. Tidak mengapa, karena semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tergantung pilihan orang tua. 

Uang sekolah dan uang jajan kami berikan tanpa diminta. Lalu apa yang kami lakukan ketika buah hati meminta uang di luar uang sekolah dan uang jajan? Permintaan  buah hati di saat orang tua sangat sibuk? Sedang bekerja di dapur, sedang di depan lattop, tangan orang tua lagi basah atau sedang di kamar mandi atau sedang dalam kesibukan  lainnya. Apakah akan menyuruh sang buah hati mengambil sendiri di dompet?  Tidak!! 

Sesibuk apapun, kami tidak mengijinkan buah hati mengambil uang sendiri di dompet orang tua, tas orang tua, di lemari atau di mana saja tempat kami menyimpan uang. Jika kami sedang tidak berada di dekat tas, dompet ada dalam rumah maka, kami akan meminta  buah hati mengambilkan dompet. Jika dalam lemari, kami minta buah hati menunggu kami mengambilkannya. Repot memang, tetapi hasilnya manis. 

Kebiasaan ini kami terapkan sejak kecil, ternyata membekas sampai sekarang ketika mereka sudah dewasa. Sekali lagi bukan karena tidak percaya pada sang buah hati,  ya. .. 

Suatu hari, buah hati yang sudah duduk di bangku SMA meminta uang pada saya. Waktu itu saya sedang berada di dapur. Tangan kiri memegang parut, tangan kanan memegang kelapa. Bisa dibayangkan tangan kanan belepotan parutan kelapa. Karena sedang di dapur, saya meminta buah hati mengambil sendiri di dompet yang ada dalam tas di kamar. 

(Foto dari dokumen pribadi.
Baju kembang kembang,
 sang buah hati) 

Sang buah hati tetap tidak mau mengambil sendiri. Karena saya desak akhirnya ia patuh pada suruhan saya. Dalam pikiran saya, ia akan kembali dengan uang di tangan. Ternyata tidak, ia kembali dengan menggendong tas yang di dalamnya ada dompet. 

Saya tidak menyalahkan karena ini adalah pembiasaan yang kami terapkan di rumah kepada dua buah hati kami. Kedua-duanya sama. Tak akan mau mengambil uang sendiri serepot apapun kami. Mereka rela menunggu diambilkan ayah ibu.  Ya,....ini hasil didikan yang membekas hingga dewasa. "Sejak kecil teranja-anja, setelah besar terbawa-bawa."

Kami mempertajam setelah usia mereka mengerti, usia TK, SD dan usia dewasa mereka sekarang, penanaman karakter jujur,"Andai pun ananda kelaparan, bahkan napas sudah di ubun-ubun, jangan sampai mengambil milik orang lain tanpa izin"

Penajaman ini mungkin terlalu berlebihan, tetapi semoga tidak menjadi salah.  Ada teman bercerita, kalau ia tak bisa menaruh dompet atau uang apa saja di dalam tas. Buah hatinya yang usia sekolah dasar dan usia taman kanak-kanak, suka mengambil uang sendiri di dalam tas atau dompet ayah ibunya, lalu pergi belanja sebelum minta izin orang tuanya. Meskipun tidak banyak jumlahnya, tetapi tetap saja ini merupakan kebiasaan yang kurang baik. 

Jadi repot di awal, menjadi nikmat di akhir.  Tergantung cara mana yang menurut orang tua, baik untuk buah hatinya. Ada sisi lebih dan kurangnya. 

Jika buah hati ingin sesuatu, maka ia akan bertanya pada kami, "Mbak, Mas, ingin ini ayah, Ibu, apakah Ayah, Ibu punya uang? "

Atau jika diajak ke tempat belanja, mereka akan bertanya, "Ibu, jika Mas mau beli ini, cukup tidak kira-kira uang  ibu. "

Atau pernah waktu ke apotek dan kami haus di sana. Begitu hendak membeli minum,  sang buah hati berucap, "Beli minumnya nanti saja, Ibu. Kita tebus obatnya dulu. Jika uangnya cukup, baru beli minum. "

Alhamdulillah, Ya Allah, semoga buah hati kami menjadi pribadi yang jujur dan bertanggung jawab. 

Lombok, 11 April 2011

Komentar

Posting Komentar