Rela Menunggu

Oleh Nuraini Ahwan. 

Menunggu adalah sesuatu yang sering menjemukan. Namun tidak bagi sesuatu yang sangat kita harapkan. Menunggu untuk sesuatu yang sangat kita sayangi dan cintai. Menunggu giliran dipanggil dokter untuk pengecekan kesehatan misalnya, berusaha melawan rasa jenuh dan jemu. Mondar-mandir, bolak balik, pindah duduk dari satu tempat ke tempat lain agar waktu terasa tak terlalu lama. Kotak-katik handphone juga salah satu cara menghilangkan kejenuhan. 

Memanfaatkan waktu di ruang tunggu dengan membuat catatan kecil atau tulisan ini juga menjadi alternatif cara menghilangkan kejenuhan. Ketika menunggu giliran dipanggil asisten dokter dimanfaatkan untuk menulis mengapa berada di ruang tunggu ini. 

Tepat 31 Desember 2020, di penghujung tahun, ujian datang kepada kami. Bukan itu masih musim penghujan. Musim penghujan,  banjir, pohon tumbang, kehujanan saat berpergian sampai pada atap bocor selalu menjadi bahan cerita dan sesuatu yang harus di atasi. 

Rumah bocor menjadi perhatian para suami di saat musim hujan. Itu juga yang menjadi perhatian  ayah di rumah. Tak sabaran melihat ada bagian atap bocor dan takut merembet ke plapon rumah, maka  ayah segera mengambil tangga, naik ke atap rumah. Waktu itu hari masih sangat pagi.  Naik ke atap rumah tanpa bantuan anggota keluarga yang lain. Anak laki yang sudah besar misalnya atau siapa saja sekedar memegang tangga. 

Kaget luar biasa ketika buah hati yang bungsu berteriak, ayah jatuh dari atap. Berlari mendekat ke tempat di mana arah teriakan itu. Tubuh ayah sudah tergeletak, terlentang dan mengerang kesakitan. Tak lama ayah sadar dan minta dibawa masuk. Katanya ayah tak apa apa. Pengobatan dijalani sebatas ke tukang urut, pakai balsem dan cantevin ketika nyeri. Di bawa ke dokter ayah tetap saja tak mau.  

Bahu kanan masih saja sakit hingga saat ini. Lengan tidak bisa digerakkan seperti semula.. Sholat pun tak bisa sujud dengan sempurna. Tak bisa mengangkat barang meskipun menurut kita ringan. Mengangkat gayung kamar mandi misalnya. 

Empat bulan berlalu, nyeri di bahu masih saja dirasakan. Hingga akhirnya dokter klinik menyarankan ke dokter ortopedi. Jangan dibiarkan khawatir nanti otot di lengan akan mengecil. Astagfirullah hal Azim. Ayah keras kepala selama ini, tidak maunke rumah sakit. 

Sekarang, hari ini, 30 April 2021 menunggu di ruang tunggu rumah sakit membawa ayah akibat jatuh  4 bulan yang lalu. Bersabar, semoga tidak terjadi apa-apa dan hanya sekedar nyeri. 

Demi orang yang dicintai... Rela menunggu  sampai kapan pun. 

Lombok, 30 April 2021

Komentar

Posting Komentar