Titik Buntu Sebuah Hubungan

Oleh Nuraini Ahwan.

Komunikasi memegang peranan penting dalam sebuah hubungan. Baik itu dalam hubungan pertemanan, hubungan percintaan dan hubungan dalam menjalani bahtera rumah tangga, hubungan pernikahan. Komunikasi membuat hubungan menjadi lancar, harmonis demikian juga sebaliknya.

Pernikahan merupakan ikatan suci bagi pasangan suami istri. Pernikahan juga bentuk komitmen antara laki-laki dan wanita yang saling mencintai untuk hidup bersama. Tidak mudah menyamakan persepsi bagi dua insan yang berbeda, baik secara fisik maupun psikis. Maka, Islam mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan, mulai dari akad nikah, hak-hak dan kewajiban pasangan, hingga persoalan talak. Hal ini dimaksudkan agar tujuan pernikahan sebagaimana yang disyariatkan agama Islam dapat tercapai. Di antara tujuan pernikahan adalah terciptanya keluarga yang sakinah (tenteram dan bahagia),  yang berdiri di atas podasi mawaddah wa rahmah (cinta dan kasih sayang)

Nah, ini yang belum dipahami sehingga timbulnya kebuntuan rumah tangga yang dijalani oleh si Y dengan Si A.  Mereka sudah  dikarunia dua anak laki-laki yang kini sudah tergolong dewasa. Anak pertamanya bahkan pernah menikah dan bercerai. Pernikahannya hanya bertahan seumur jagung. Anak keduanya sudah tamat SMA yang sedang giat-giatnya mencari kerja. Gagal di tempat yang satu, ia cepat mencoba di tempat yang lain.

Peliknya memang, hubungan rumah tangga  si Y dan si A. Komunikasi dalam rumah tangganya sepanjang usia pernikahannya sepertinya bertahan karena keluarga. Pasangan suami istri ini adalah sepupu. Dengan demikian, ketika rumah tangga mereka mengalami masalah, maka hebohlah anggota keluarga yang lain. Letak rumah mereka dengan orang tua masing-masing berdekatan bahkan satu halaman. Saudara-saudara juga tinggal di sekitar rumah mereka sehingga semua bisa menjadi spion, alat rekam dan kamera ketika ada hal baik terlebih lagi jika ada hal buruk dari rumah tangga ini. Berita buruk merupakan santapan untuk segera dilahap.

Rumah tangga si Y dan si A yang sudah dikarunia 2 orang putra ini, tak henti-hentinya dilanda masalah hingga akhirnya si Y memutuskan untuk merantau ke Luar Negeri. Ia menjadi TKI dengan maksud ingin mengubah nasib keluarganya. Akan tetapi rupanya si Y lupa akan janjinya atau mungkin nasibnya kurang beruntung. Ia tidak menghasilkan sesuatu yang menurut pengamatan tidak seperti TKI yang lainnya. Kemungkinan berikutnya adalah si Y tidak benar-benar serius di negeri orang, ia ada main dengan wanita lain. Lagi-lagi ini spion yang berkata. Bukan spion dekat namun spion jarak jauh.

Ketidakseriusan si Y membuat rumah tangga mereka tak berubah secara ekonomi dari hasil jerih payahnya. Ini lagi-lagi pengamatan dari luar. Sifat dan bagaimana watak asli si A dalam menghadi suaminya (si Y) juga tak begitu diketahui orang lain. Yang tahu hanyalah si Y suaminya. Semua yang ada di rumahnya, motor dan alin sebagainya yang dibelikan untuk dua putranya adalah hasil usaha istrinya (si A). Ini juga menurut pandangan orang dan dari satu pihak.

Akhirnya rumah tangga mereka putus. Tidak bisa diselamatkan. Akan tetapi karena cinta yang begitu kuat dari istri pada suaminya, ia menyusul menjadi TKW. Dua anaknya diserahkan untuk diurus kebutuhannya pada nenek dan kakeknya. Neneknya sudah tua renta membuat prihatin ketika melihat kesehariannya. Nenek dann kakeknya sudah merasa sedih dan terpukul melihat rumah tangga anaknya. Setiap ada permasalahan pasti akan melibatkan keluarga besarnya. Ini kadang membuatnya tak keluar dari rumah. Mereka seakan malu keluar rumah.

Menjadi kasihan dua anaknya yang tak tentu ke mana akan mencari makan. Ke neneknya? Ke bibinya? Atau makan di luar jika ada kiriman uang dari orang tuanya. Rumah orang tuanya menjadi ajang kumpul para remaja. Bisa dibayangkan, bagaimana berantakan rumah yang ditinggalkan oleh suami istri.?

Menyusul menjadi TKW, berharap akan bertemu dengan mantan suami, akhirnya tercapai. Ada di dekat suami membuat hubungan mereka menjadi membaik. Mereka menikah kembali di negeri orang. Pernikahannya kembali rupanya tak membuat hubungan mereka menjadi baik kembali. Si Y, suaminya kembali main dengan wanita lain. Ini cerita dari si A, istrinya pada keluarga dan cerita dari orang lain.
Ada apa dengan mereka. Setiap yang dilakukan oleh si Y selalu sampai pada keluarga besar. Ada apa dengan rumah tangga mereka?

Hingga sampai pada titik puncak..
Si Y pulang kembali ke kampung halaman sementara istrinya tetap menjadi TKW. Ia belum pulang karena masih mengumpulkan pundi-pundi real. Di kampung, suaminya mulai membenahi rumah. Ia juga membangun rumah baru di samping rumah yang sudah ada. Entah dananya dari si Y atau istrinya, hanya mereka berdua yang tahu. Kebiasaan suaminya yang mencari wanita lain saat masih di negeri orang, itu juga yang dilakukannya di kampung.
Ada apa dengan hubungan dalam rumah tangganya?

Banyak cerita, banyak informasi yang saat ini dengan cepat bisa sampai. Tidak ada jarak, tidak ada tembok, tidak ada yang bisu. Barang elektronik bisa berbicara. Ini juga bisa menjadi mata-mata bagi banyak orang.

Pemanfaatan media sosial yang tidak tepat adalah sebagai ajang penyebar fitnah, provokasi, dan ajang curhat bagi pasangan suami istri. Seringkali istri mengeluhkan kondisi keluarganya di media, sehingga ribuan manusia bisa menyaksikan. Begitupun sebaliknya, suami mengeluhkan atas sikap istri kepada semua pembaca. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang diluapkan itu adalah aib yang seharusnya diselesaikan dan ditutup rapat.  Yang demikian ini sama halnya dengan membuka keburukan dan kegagalan dalam keluarganya. Hal ini tentu menjadi perhatian bersama terutama bagi pasangan suami istri. Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an bahwa pasangan suami istri ibarat pakaian.

Syaikh Jalaluddin dalam Tafsir Jalalain menjelaskan, setidaknya ada tiga makna pakaian;

Pertama, sebagai bentuk kedekatan pasangan. Pasangan suami istri diibaratkan seperti pakaian dari sisi kedekatannya. Pakaian selalu menempel dengan kulit. Tidak ada jarak yang memisahkan keduanya. Maka dalam rumah tangga seharusnya ada rasa saling percaya, transparansi, tanggung jawab, dan saling setia.

Kedua, saling merangkul. Sebagaimana umumnya, merangkul adalah aktivitas yang menunjukkan adanya rasa sayang, memiliki, bahagia, suka, dan tempat bersandar. Begitulah semestinya pasangan suami istri. Ada rindu jika jauh, ada kedamaian jika berada di sisi. Mereka adalah dua insan yang saling menghangatkan baik di kala suka maupun duka. Tempat bersandar di tengah kesedihan yang melanda.  

Ketiga, saling membutuhkan. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa dalam rumah tangga ada hak dan kewajiban. Keduanya harus memiliki sikap responsif terhadap pasangan. Dalam hal ini pasangan suami istri berperan sebagai partner dalam menjalani kehidupan. Saling membantu, saling menopang, saling meringankan dan sebagainya.

Makna pakaian bagi pasangan suami istri yaitu saling menutupi keburukan di antara keduanya

Jika disimak sedikit ulasan di atas, inilah yang tidak dilakukan oleh pasangan suami istri ini. Tidak menjadikan pasangan hidupnya adalah pakaian bagi dirinya. Media sosial dijadikan mata-mata sekaligus penebar keburukan pasangan masing-masing. Tidak mempercayai salah satu pihak membuat urusan menjadi urusan masing-masing. Ini membuat hubungan mereka seperti mencapai titik buntu.
Bagaimana nasib anak-anaknya?
Hanya menonton drama yang di pertontonkan oleh orang tuanya.

Bagaimana dengan orang tuanya yang sudah renta? Ayahnya hanya mengatakan, "Ayah sudah tua, tidak kuat lagi berpikir, selesaikan saja bagaimana baiknya. "

Si A, katanya sudah tidak kuat lagi melihat kelakuan suaminya. Sementara suaminya tetap tak mau berubah dan hanya diam tak ada kata yang keluar menindaklanjuti kemauan istrinya untuk berpisah. Eee.... Memang ia sudah berpisah jarak... Maksudnya berpisah secara hubungan pernikahan alias bercerai.

Sementara ibunya, menahan tangis. Tak ada air mata yang menetes. Orang tua renta yang sudah setengah bungkuk ini tidak menetekan air mata. Satu tetes air mata keluar akibat kesalahan anak akan berdampak besar bagi anak tersebut. Ia hanya mengatakan, " Yang menjalani adalah mereka. Kita hanya bisa melihatnya dari luar. Yang tahu bagaimana rumah tangganya adalah mereka yang menjalani. Jadi ibu serahkan pada mereka. Ibu biar ada di dalam rumah saja. Tidak banyak keluar rumah. "
Ada apa yang tersembunyi di balik rumah tangga mereka?
Apakah anak-anaknya yang akan menjadi korban masalah orang tuanya?

Ada whatsapp masuk rupanya ke handphone milik si Y. Rupanya chat melalui WA adalah dari orang yang sudah lelah dengan laporan tentang si Y. Dari segala sumber media sosial yang membuatnya menjadi ikut turun tangan.

Begini bunyi chat dari seseorang untuk si Y,
Di saat usia sudah menjelang 50 tahun, bersyukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, diberi umur yang sudah tergolong tua. Bersyukur lagi diberi keturunan anak-anak yang sudah besar-besar. Karena banyak orang yang tak memiliki anak. Semua yang sudah punya anak pasti tahu rasanya punya anak, rasa sayang dan perhatian pada anak. Karena anak adalah sumber kebahagiaan orang tua.

Bahkan orang tua rela berbuat apa saja demi kebahagiaan anak. Orang tua rela menderita demi anak-anak. Di saat umur sudah seperti sekarang ini, untuk apa kita mengejar kebahagiaan sendiri, berhura-hura, dengan orang lain, sementara anak sendiri entah seperti apa
Apakah anak-anak bahagia?

Orang tua adalah contoh langsung untuk anak-anak. Buat apa orang tua mengejar kebahagian sendiri sementara anak-anaknya entah seperti apa. Ini namanya orang tua yang egois. Kebahagian orang tua yang hanya sesaat, sementara anak akan berjuang dalam umurnya yang masih panjang. Masa depan yang menantinya.

Banyak orang tua yang tak memikirkan kebahgiaan dirinya yang penting anak anaknya bahagia. Lalu bagaiamana dengan anda?

Sudahkah berpikir tentang kebahgiaan orang tua anda, yang kondisinya kian renta. Ayah yang tulangnya kini hanya dibalut kulit, yang menetes akan air mata karena ulah anaknya? Pernahkah berpikir tentang ibu yang tubuhnya mulai bongkok, tertatih-tatih menyiapkan kebutuhan anaknya? Pernahkah terpikir seorang ibu tua renta yang menahan tangisnya agar tidak keluar air matanya? Ibu yang takut menangis karena kalau sampai air matanya menetes maka dosa besar bagi si anak yang telah membuat sedih ibu yang melahirkannya.

Kebahgiaan yang anda cari saat ini hanya sesaat. Meski dipikir mana baik buruknya. Mungkin akan lebih bagus mengorbankan kebahagiaan sendiri demi kebahagiaan anak anak dan orang-orang yang mungkin masih anda cintai dan mencintai anda.

Bertaubatlah, dan sadarlah karena anda hidup di masyarakat yang tentunya punya penilaian terhadap anda dan keluarga. Di mana letak akal dan pikiran, ada anak, ada istri, orang tua yang sudah renta, bersaudara, di mana letak hati nurani, tak bisakah mengubah kelakuan, agar tidak terus-terusan membuat orang tua malu.

Ayoo ...berubah.... Kasian ibu dan bapak yang mengurung diri di belakang rumah. Kasian juga sang buah hati yang lagi tes. Hidup seseorang tidak bisa diubah oleh orang lain selain diri sendiri.
Belum cukupkah membuat ibu dan bapak susah? Susah bukan karena uang tapi susah karena kelakuan anak laki- lakinya.
Ada apa dengan pasangan ini?
Adakah yang tidak diketahui oleh orang orang yang menilainya? Keluarga dan orang-orang di sekitarnya?

Kaget saja membaca balasan chat dari si Y. Chat yang baru kali ini dibalas dari chat yang jumlahnya sudah ratusan.

"Siapa yang tahan dengan perempuan cerewet, tidak percaya pada suami. Setiap marah selalu mengungkit masalah uang yang dipakai suami. Semua yang ada di rumah diklaim sebagai hasil jerih payahnya. Saudaranya selalu ikut campur. Apakah saya harus bersimpuh di kaki istri, baru keluarga percaya bahwa saya sayang ibu dan bapak.  Diam di rumah, dikatakan makan gaji istri yang banting tulang menjadi TKW. Keluar rumah dikatakan cari perempuan lain. Sementara ada sangkutan hutang tidak mau ditanggung bersama. Hutang, katanya menjadi urusan suami. Lalu apa yang harus saya lakukan? "

Inilah titik buntu dari sebuah hubungan akibat komunikasi yang tak harmonis dan media sosial yang tak digunakan secara bijak. Baik oleh sang suami maupun sang istri. 

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/99082/makna-ayat-suami-istri-adalah-pakaian-bagi-pasangannya

Lombok, 14 April 2021.

Komentar

Posting Komentar