Postingan

Buah Hatiku Menjadi Siswaku

Gambar
 Oleh Nuraini Memerankan diri sebagai guru yang pertama dan utama buat sang buah hati tentunya dilakukan oleh semua ibu. Memerankan diri sebagai pengganti guru di sekolah tidak semua orang sudah atau pernah melakukannya.  Pada saat ini, hampir semua ibu atau ayah yang punya buah hati usia sekolah tentunya sedang memerankan diri sebagai guru pengganti guru sang buah hati di sekolah akibat masa pandemi covid 19 ini. Belajar dari rumah dengan teknik daring, luring atau kombinasi keduanya. Sulitkah hal itu bagi ibu atau orang tua? Sulitkan menggantikan sosok guru mereka? Sekian bulan lamanya, hampir satu tahun. Bukanlah waktu yang singkat.   Awalnya selalu heran jika mendengar keluhan, pengaduan atau curhatan orang tua yang merasa kesulitan mendampingi buah hatinya untuk belajar di rumah, tetapi sekarang saya tak heran lagi.  Saya mengalami sendiri saat ini. Ketika pembelajaran jarak jauh diterapkan bagi sang buah hati untuk masa pendidikannya sampai pandemi covid 1...

Ketika Rindu Datang Melanda

Gambar
 Ketika Rindu Datang Melanda Oleh Nuraini Ahwan. Delapan belas tahun telah bersama, tak pernah saling meninggalkan. Hampir tak pernah sekali pun tinggal berjauhan. Jika bepergian dan hendak menginap, maka kami pun dipastikan selalu bersama. Sekolah pun tak sampai meninggalkan rumah dalam waktu relatif lama, mondok misalnya.  Begitulah kami dengan sang buah hati. Putra bungsu yang selalu merasa heran jika dalam satu hari  melihat saya tidak khusuk memegang handphone. Putra bungsu yang sangat paham bahwa saya tak mau diganggu ketika sedang asyik memainkan jemari tangan di layar handphone. Putra bungsu yang selalu bertanya,"Ibu tidak menulis malam ini?" Hampir dua minggu, kami tak bersamanya. Tepatnya, hari Jum'at tanggal 13 Nopember 2020, ia dinyatakan lulus seleksi Bintara Polri tahun 2020 di usianya yang genap 18 tahun, 1 bulan 14 hari.  Alhamdulillah. ...ini merupakan hadiah terindah ulang tahunnya dan hadiah terindah pula di hari guru.  Berangkat menempuh pend...

Bukan Lebay

Gambar
Oleh Nuraini Ahwan Siapa pun yang menjadi seorang ibu pasti merasakan hal yang sama. Tak perlu kita bercerita tentang bagaimana perasaan sayang, cinta dan kasih kepada sang buah hati. Bagaimana seorang ibu rela melakukan apa saja untuk sang buah hati.  Bahkan mempertaruhkan nyawa sekalipun, seorang ibu pasti rela melakukannya. Saya pernah bertanya kepada seorang ibu, kebetulan ia adalah keluarga dekat saya. Ia  yang menangis tanpa henti, sebentar menangis, sebentar berhenti dan menangis lagi. Ia mengatakan bahwa ia menangis lantaran memikirkan putranya yang sedang seleksi untuk calon pegawai negeri sipil saat itu. Tes untuk masuk di sebuah lembaga dengan tahapan tes yang dilaksanakan beberapa tahap.  Si ibu menangis bukan  di depan orang banyak, tetapi saya tahu kalau ia sudah menangis terlihat dari bola matanya yang sembab. Ia juga menangis bukan tidak mendekatkan diri pada Sang Pemilik Hidup. Menangis menunjukkan kelembutan hari seorang ibu. Andaikan ia bisa memb...

Luka Yang Tak Pernah Kau Rasa.

Gambar
Oleh Nuraini Ahwan. Pagi ini, saya berangkat ke sekolah di waktu yang boleh dikatakan pagi buta. Suasana masih sedikit seperti berawan karna masih agak gelap, matahari belum begitu tinggi. Saya tinggalkan rumah sepagi ini karena hari ini hari pertama masuk sekolah. Senin, 9 Nopember 2020, sekolah kami mendapat izin membuka sekolah di masa new normal atau masa tatanan baru. Ini awal dilaksanakannya pembelajaran tatap muka. Pembelajaran yang didambakan oleh sebagian besar siswa tak terkecuali orang tua.  Meninggalkan rumah sepagi ini tentu tetap dengan kebiasaan yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Siapa pun yang meninggalkan rumah lebih awal atau lebih dahulu, maka ia akan berpamitan dengan cara bersalaman kepada  seluruh anggota keluarga. Begitu juga yang saya lakukan pagi ini.  Bersalaman dengan ayahnya anak-anak, anak sulung dan terakhir bersalaman dengan anak bungsu.  Ketika sampai di ruang tamu ternyata si bungsu telah menunggu. Ia duduk di kursi untuk s...

Demi Orang Terkasihku

Gambar
Oleh Nuraini Ahwan.  Demi orang terkasihku, jangan permainkan jiwa dan pikiran ini dengan berita yang kau bawa. Sebentar khabar gembira sebentar khabar sedih yang kau berikan. Jiwaku tak sekokoh ragaku kali ini. Meski tubuhku mampu melangkah, tapi jiwaku seakan tak bisa senada dengan kekuatan ragaku. Begitu juga dengan telaga air mataku. Tak lagi sekuat dulu untuk menahan luapannya. Aku tak mampu membendung hingga meluap, membanjiri raga ini. Ketika ku pandang buah hati terkasihku .. Yang lagi menampakkan wajah gelisah, resah dan memendam semangat yang membara, membuat hati ini terasa teriris. Perih dan pedih hingga membuat telaga bening meluap, membasahai mukena yang menutup sekujur tubuhku.  Buah hati terkasihku, semesta kecilku,  Dalam semangatmu ada doa dari orang yang tak mampu bertahan tanpamu. Dari  orang yang berharap, disetiap denyutan jantung, desiran darah, desahan napas,  setiap gerak laku dan raga adalah doa tulus untukmu duhai buah hatiku, semesta ...

Apakah Sabar Ada Batasnya?

Gambar
 Oleh Nuraini Ahwan Benarkah sabar ada batasnya? Kalimat yang  itu merupakan kalimat yang sering  bahkan sangat sering didengar. Setiap mendapat sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan dalam pergaulan dengan sesama yang menyebabkan luka di hati.  Perasaan luka yang disebabkan oleh perbuatan seseorang secara berulang-ulang. Maka kaliimat itu kadang terlontar tanpa sengaja. Kalimat  yang kadang diperdengarkan kepada seseorang yang membuat kesal di hati, membuat marah atau sejenisnya, dengan maksud untuk sekedar mengingatkan si pembuat sakit hati, kesal dan marah agar tidak mengulangi lagi perbuatannya itu. Benarkah sabar itu ada batasnya?  Sabar itu bukanlah jarak yang bisa dilihat dan diketahui dari mana awal dan di mana akhirnya. Jika saja sabar itu ada batasnya, lalu apa yang ada setelah batas itu? "Kesabaran saya ada batasnya." Kalimat ini sering didengar atau mungkin juga pernah kita ucapkan atau mungkin sekedar kita pendam ketika kita merasa tersa...

Rencana Bahagia Berujung Duka

Gambar
Oleh Nuraini Ahwan Bagaikan disambar petir, begitu kata orang ketika mendapat berita yang mengejutkan, sangat tidak disangka dan diduga-duga. Begitu yang kira-kira saya rasakan saat ini. Saya merasa bersyukur karena sebelum ini saya pernah bertanya melalui tulisan kepada teman grup yang baik tentang bagaimana manajemen kegelisahan yang di dalamnya juga terkandung manajemen kesedihan. Sehingga, alhamdulillah saya mampu mengontrol diri ketika saya menerima berita bagaikan petir ini. Pagi, Kamis, 22 Oktober 2020, handphone saya berdering. Saya menerima panggilan yang ternyata berasal dari adik yang paling kecil. Di ujung telpon.handphone terdengar suara histeris menangis. Samar-samar saya mendengar kalimat,"Kak, Alfan meninggalkan kita." Saya terdiam.mendengar isak tangis yang tak lagi dilanjutkan dengan kalimat atau kata-kata lain lagi. Saya pun tak bisa bertanya dan berkata apa-apa selain kata," Ya, kakak ke sana." Handphone  yang di tangan saya matikan. Anak-ana...